
Shopee adalah salah satu platform e-commerce paling populer di Asia Tenggara. Perusahaan ini pertama kali diluncurkan pada tahun 2015 di Singapura oleh Sea Limited, perusahaan teknologi global yang juga menaungi layanan digital lain seperti Garena dan Monee. Sea Limited sendiri berdiri pada tahun 2009 di Singapura dengan misi membantu konsumen dan bisnis kecil melalui teknologi.
Pada awal kemunculannya, Shopee hadir dengan konsep mobile-first marketplace. Artinya, Shopee sejak awal dirancang agar nyaman digunakan lewat smartphone. Strategi ini sangat tepat karena masyarakat Asia Tenggara, termasuk Indonesia, mengalami pertumbuhan pengguna internet mobile yang sangat cepat.
Berbeda dari marketplace lama yang banyak berfokus pada website desktop, Shopee langsung masuk ke kebiasaan baru konsumen: belanja lewat aplikasi. Inilah salah satu alasan mengapa Shopee cepat dikenal, terutama oleh pengguna muda, pelaku UMKM, reseller, dan pembeli yang ingin proses belanja lebih mudah.
Diluncurkan oleh Sea Limited
Shopee merupakan bagian dari Sea Limited, perusahaan publik yang terdaftar di New York Stock Exchange dengan kode saham SE. Dalam struktur bisnis Sea, Shopee menjadi divisi e-commerce utama. Sea menyebut Shopee sebagai platform e-commerce pan-regional terbesar di Asia Tenggara dan Taiwan, serta salah satu platform terdepan di Brasil.
Kehadiran Shopee tidak berdiri sendiri. Ia tumbuh bersama ekosistem digital Sea Limited yang mencakup hiburan digital, e-commerce, dan layanan keuangan digital. Kombinasi ini membuat Shopee punya fondasi teknologi, data pengguna, sistem pembayaran, dan strategi pemasaran yang kuat.
Masuk dan Berkembang di Indonesia
Shopee mulai dikenal luas di Indonesia setelah ekspansinya pada 2015. Indonesia menjadi salah satu pasar terpenting karena jumlah penduduk besar, pengguna internet terus meningkat, dan budaya belanja online berkembang cepat. Shopee kemudian bersaing dengan marketplace besar lain seperti Tokopedia, Lazada, Bukalapak, dan TikTok Shop.
Di Indonesia, Shopee berhasil membangun citra sebagai platform belanja yang mudah, murah, dan dekat dengan konsumen. Kampanye seperti gratis ongkir, voucher belanja, flash sale, tanggal kembar, live shopping, dan program affiliate membuat Shopee semakin melekat di benak pengguna.
Bagi banyak UMKM, Shopee bukan sekadar tempat jualan. Platform ini menjadi “toko digital” yang bisa dibuka tanpa harus punya website sendiri. Penjual kecil bisa mengunggah produk, mengatur harga, menerima pembayaran, mengikuti promo, dan menjangkau pembeli dari berbagai daerah.
Strategi Bisnis Shopee
Strategi utama Shopee adalah menggabungkan harga kompetitif, pengalaman aplikasi yang mudah, promosi agresif, dan ekosistem pembayaran digital. Di tahap awal pertumbuhannya, Shopee banyak menggunakan promo untuk menarik pengguna baru. Strategi ini membuat orang mencoba aplikasi, lalu perlahan membentuk kebiasaan belanja online.
Shopee juga memperkuat pengalaman belanja lewat fitur seperti ulasan produk, chat penjual, live streaming, rekomendasi personal, voucher toko, dan sistem pengiriman terintegrasi. Dengan cara ini, Shopee tidak hanya menjadi tempat transaksi, tetapi juga ruang interaksi antara pembeli, penjual, kreator, dan brand.
ShopeePay kemudian menjadi bagian penting dari ekosistem Shopee. Layanan pembayaran digital ini membuat transaksi lebih cepat dan membantu pengguna menikmati promo tambahan. Di sisi lain, layanan logistik dan fulfillment juga terus dikembangkan agar proses pengiriman lebih efisien.
Perkembangan Shopee Hingga 2026
Perkembangan Shopee terus berlanjut hingga 2026. Berdasarkan laporan Sea Limited untuk kuartal keempat dan tahun penuh 2025, pendapatan GAAP Shopee pada kuartal IV 2025 naik 35,8% menjadi US$4,3 miliar, dibandingkan US$3,2 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini terutama didorong oleh kenaikan GMV atau nilai transaksi bruto.
Dalam presentasi hasil 2025, Sea juga menyebut jaringan collection point Shopee telah tumbuh menjadi lebih dari 2.800 lokasi, sementara Brasil menjadi pasar dengan pertumbuhan tercepat pada 2025 dan tetap profitable. Untuk 2026, Sea menargetkan GMV tahunan Shopee tumbuh sekitar 25% year-on-year.
Data terbaru ini menunjukkan bahwa Shopee bukan lagi sekadar marketplace regional kecil. Shopee sudah menjadi mesin pertumbuhan utama Sea Limited dan terus memperluas pengaruhnya di pasar e-commerce global, terutama di Asia Tenggara dan Amerika Latin.
Dampak Shopee di Indonesia
Shopee punya dampak besar terhadap kebiasaan belanja masyarakat Indonesia. Dulu, banyak orang masih ragu belanja online karena takut barang tidak sampai, kualitas tidak sesuai, atau pembayaran tidak aman. Namun, fitur seperti rating, ulasan, garansi, pembayaran digital, dan pelacakan pengiriman membuat kepercayaan konsumen meningkat.
Bagi UMKM, Shopee membuka peluang baru. Penjual rumahan, reseller, dropshipper, produsen lokal, hingga brand besar bisa masuk ke pasar digital dengan modal yang lebih fleksibel. Mereka tidak harus menyewa toko fisik mahal untuk mulai menjual produk.
Shopee juga ikut mendorong tren baru seperti live commerce, affiliate marketing, dan content-based selling. Sekarang, jualan online tidak hanya soal unggah foto produk. Penjual juga perlu membuat konten, membangun kepercayaan, menjawab chat cepat, dan mengikuti tren promosi.
Tantangan Shopee
Walaupun tumbuh pesat, Shopee tetap menghadapi tantangan besar. Persaingan e-commerce semakin ketat, terutama dengan kehadiran TikTok Shop, Tokopedia, Lazada, dan berbagai platform social commerce. Untuk tetap unggul, Shopee harus menjaga harga tetap menarik, layanan cepat, dan pengalaman pengguna tetap nyaman.
Shopee juga menghadapi perhatian dari regulator. Pada 2024, Reuters melaporkan bahwa Shopee di Indonesia setuju menyesuaikan layanan setelah isu terkait dugaan pelanggaran persaingan usaha dalam pengaturan layanan pengiriman. Shopee menyatakan komitmennya untuk mematuhi hukum Indonesia dan menyesuaikan antarmuka sesuai masukan regulator.
Tantangan lain adalah biaya operasional. Pada 2026, Reuters melaporkan saham Sea sempat turun setelah biaya operasional meningkat, termasuk belanja pemasaran Shopee dan investasi untuk menghadapi persaingan di sektor e-commerce Asia Tenggara.
Kesimpulan
Sejarah perusahaan Shopee dimulai dari Singapura pada 2015 sebagai platform belanja online berbasis mobile. Dalam waktu singkat, Shopee berkembang menjadi marketplace besar di Asia Tenggara, Taiwan, dan Brasil. Di Indonesia, Shopee sukses karena memahami kebutuhan pengguna: belanja mudah, promo menarik, pilihan produk banyak, dan dukungan pembayaran digital.
Kekuatan Shopee terletak pada kemampuannya membangun ekosistem. Ia tidak hanya menyediakan tempat belanja, tetapi juga membantu penjual, UMKM, kreator, brand, dan konsumen terhubung dalam satu aplikasi. Meski persaingan makin keras, Shopee tetap menjadi salah satu pemain utama e-commerce yang paling berpengaruh di Indonesia.
FAQ
1. Kapan Shopee didirikan?
Shopee diluncurkan pada tahun 2015 di Singapura oleh Sea Limited.
2. Siapa pemilik Shopee?
Shopee dimiliki oleh Sea Limited, perusahaan teknologi global asal Singapura.
3. Kapan Shopee masuk Indonesia?
Shopee mulai hadir di Indonesia pada periode ekspansi regionalnya sejak 2015.
4. Mengapa Shopee cepat populer?
Shopee populer karena aplikasinya mudah digunakan, sering menawarkan promo, gratis ongkir, voucher, flash sale, dan mendukung banyak penjual kecil.
5. Apa peran Shopee bagi UMKM Indonesia?
Shopee membantu UMKM menjual produk secara online, menjangkau pembeli lebih luas, dan membangun toko digital tanpa harus memiliki website sendiri.
Baca Juga :